Pages

Jumat, 23 April 2010

Menyampaikan dengan Hikmah

Betapa indahnya jika setiap waktu yang kita lalui senantiasa berada pada jalur yang benar. Setiap perbuatan yang dilakukan membawa keberkahan bagi diri sendiri dan kemanfaatan bagi saudara-saudara yang ada di sekitarnya. Nuansa saling menasihati dan mengingatkan mewarnai hari-hari yang telah Allah berikan. Tentu belum cukuplah bagi seorang muslim apabila hanya memperhatikan dirinya sendiri. Tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, ketika terjadi kemungkaran-kemungkaran. Amar ma’ruf nahi munkar, tidak sebatas kalimat yang berarti memerintahkan pada yang ma’ruf dan mencegah pada yang mungkar. Kalimat itu butuh gerak dari anggota badan kita dalam menjalankan kewajiban sebagai hamba di dunia ini.

Tidak akan ada yang berkata bahwa dakwah itu ringan tanpa tantangan. Semua membutuhkan pengorbanan. Ia membutuhkan kesabaran yang besar. Cacian, makian, hujatan, dan rintangan tajam yang lain tentu akan menjadi badai yang senatiasa menerpa arah jalan para pejuang dakwah. Namum saudaraku, tidakkah kita sudah punya teladan ketika memang dakwah itu mendapat cacian dan makian. Empat belas abad yang lalu, Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan, bagaimana sebaiknya kita bertindak sekaligus berdakwah ketika tantangan datang.
Di sudut pasar kota Madinah, ada seorang pengemis buta yang setiap hari selalu berkata kepada orang yang mendekatinya, ”Wahai Saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya, maka kalian akan dipengaruhinya.”

Meskipun demikian, setiap pagi Rasulullah Muhammad Shalallahu’alahi wa Sallam selalu mendatanginya dengan membawakan makanan untuknya. Dan tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya adalah Rasulullah dan tetap saja dia mencaci maki beliau di hadapannya.
Rasulullah Shalallahu’alahi wa Sallam melakukan hal tersebut setiap hari sampai beliau wafat. Setelah wafatnya Rasulullah, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan dan menyuapinya disetiap pagi kepada pengemis itu.
Hingga suatu hari, sahabat terdekat Rasulullah, yaitu Abu Bakar Radhiallahu’anhu berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah Radhiallahu’anha yang juga merupakan istri Rasulullah dan bertanya, ”Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan?”
Aisyah menjawab, ”Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada kebiasaan Rasulullah yang belum ayah lakukan kecuali satu saja."
“Apa itu?” tanya Abu Bakar.
”Setiap pagi, Rasulullah berkunjung ke pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis buta yang ada di sana,” Kata Aisyah.
Keesokan harinya, Abu Bakar Radhiallahu’anhu pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu bakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik,” Siapa kamu?”
Abu Bakar menjawab, ”Aku orang yang biasa.”
“Bukan! Kamu bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.
“Apabila ia datang, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan kepadaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar Radhiallahu’anhu tidak dapat dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis tadi, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Shalallahu’alahi wa Sallam.”
Seketika itu juga sang pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar dan berkata, ”Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memakinya, memfitnahnya, dan ia tidak pernah memarahiku sedikit pun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.”
Pengemis itupun akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar Radhiallahu’anhu dan sejak saat itu pula dia menjadi muslim.
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl : 125).
Sungguh mulia apa yang dilakukan Nabi SAW. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan oleh Allah untuk senantiasa meniru jejak Beliau. Berdakwah tidak harus dengan berceramah, dengan hikmah pun akan mampu mengena.
Wallahu a'lam.

penulis  : akhiwiedz

2 komentar:

Pembaca yang cerdas adalah pembaca yang kritis.
Silahkan komen ya demi kemajuan blog ini...

 

Blogger news

Blogroll

About